Militansi Saefudin Dibentuk Setelah dari Yaman
JAKARTA - Terorisme membuat keluarga Anugrah, mantan anggota DPRD Kabupaten Tangerang dari PKS, kelimpungan.
Tiga anggota keluarganya disebut-sebut terlibat jaringan terorisme. Dua masuk daftar pencarian orang (DPO) polisi, yakni Saefudin Jaelani dan M Syahrir. Satu tewas terkena tembak Densus 88 di Temanggung yakni Ibrohim.
Anugrah mengatakan, militansi dua adiknya yaitu Saefudin Jaelani alias Syaifudin Zuhri dalam jaringan Noordin M Top terbentuk sembilan tahun lalu setelah pulang dari Yaman. Jika ada keluarga yang tidak setuju dengan pendiriannya, Saefudin langsung memboikot hubungan komunikasi.
“Dia pulang tahun 2000 dari Yaman. Sejak itu, dia menjauhkan diri dan seakan memusuhi saya,” ujar Anugrah, kakak Saefudin di kantor DPP PKS Jakarta, Senin (24/8). Saat bicara tentang adiknya, raut muka Anugrah tampak tertekan, kulit di bawah kelopak matanya agak menghitam tanda kurang tidur.
Anugrah adalah kader PKS sejak partai itu bernama Partai Keadilan (PK) pada 1998 silam. Pada pemilu 1999 dan 2004, Anugrah terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Tangerang. Namun, sejak 7 Agustus lalu, dia tak lagi menjadi wakil rakyat karena sudah habis masa jabatannya. Dia sempat mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Banten tapi tidak terpilih. Anugrah tinggal di Jalan Cendana II Blok D7, Perum Sarana Indah Kedaung, Pamulang, Tangerang Selatan.
Anugrah adalah kakak kandung dari dua buron ledakan JW Marriott dan Ritz Carlton. Mereka sebenarnya delapan bersaudara. Anugrah anak kedua. Sementara, M Syahrir alias Aing anak ketiga, Sucihani (istri Ibrahim) anak kelima, dan Saefudin Zuhri anak keenam. Mereka awalnya tinggal di Depok.
Anugrah menuturkan, hubungan delapan bersaudara itu sejak kecil sebenarnya baik-baik saja. Bahkan, saat lelaki 43 tahun itu aktif di Partai Keadilan (sebelum berubah menjadi PKS) pada 1998, dia mengajak Syahrir untuk ikut membantu. Saat itu, Partai Keadilan memang sedang all out untuk menjadi kontestan pemilu. Mereka harus menyiapkan orang sebanyak-banyaknya untuk menghadapi verifikasi faktual agar bisa ikut pemilu.
“Syahrir aktif di DPC Teluk Naga, Tangerang,” kata Kabid Humas DPP PKS Ahmad Mabruri yang ikut mendampingi Anugrah.
Namun, hubungan persaudaraan itu merenggang ketika pada 2000 Saefudin pulang ke Indonesia dari Yaman. Anugrah tak tahu pasti apa yang dilakukan adiknya di Yaman. Namun, dia menduga adiknya bersentuhan dengan kelompok-kelompok tertentu di negeri yang beribukota di Sanaa itu.
Lelaki yang disebut polisi sebagai perekrut “pengantin” Danni Dwi Permana itu seakan hendak menjauhkan keluarganya dari saudara-saudaranya sendiri. Terutama dari Anugrah.
Apalagi, ketika Jaelani Irsyad (orangtua delapan bersaudara itu) memboyong keluarga pindah ke Cilimus, Kuningan, Jawa Barat. Belakangan, Sucihani pun mendirikan rumah tepat di samping rumah Jaelani.
Nah, sejak saat itu, tutur Anugrah, mereka tak lagi berkomunikasi intensif. Bahkan, mereka seperti putus kontak. Kabar mengenai kondisi keluarga tak pernah disampaikan. “Ketika istri Syaifuddin melahirkan di rumah sakit pun, dia tidak memberitahu saya. Saya justru mendengarnya dari orangtua. Bahkan di mana rumah mereka pun, mereka tidak pernah memberitahu keluarga,” tutur Anugrah.
Hal serupa terjadi pada Syahrir. Lelaki yang kini berusia 41 tahun itu pun ikut-ikutan menjauh. Pada 2000 juga, dia memutuskan untuk tidak lagi aktif lagi di PKS. Padahal, dia sebelumnya sangat aktif di partai berideologi Islam itu. ”Kami tidak pernah kontak lagi dan mereka seperti menganggap saya bukan kakak mereka lagi,” katanya dengan nada terbata-bata. Anugrah sempat menghela nafas sejenak usai bicara.
Sejak saat itu, menurut Anugrah, mereka tak pernah bertemu. Mereka baru bisa bertemu enam tahun kemudian yakni pada 2006. Saat itu, keluarga mengadakan halal bihalal pasca Lebaran.
Ketika itulah Anugrah berjumpa dengan Syahrir dan Saefudin. Tapi, pertemuan itu hanya sebentar. “Saya ada urusan karena itu tak bisa berbincang banyak dengan mereka,” tuturnya.
Setelah itu, praktis Anugrah tak pernah bertemu dengan mereka berdua. Anugrah sendiri juga tidak pernah mencurigai bahwa mereka masuk dalam jaringan buron terorisme kelas wahid Noordin M Top.
“Dugaan saya, Saefudin-lah yang mengajak Syahrir dan Ibrohim untuk ikut dalam jaringan teroris itu,” kata Anugrah. Apalagi, polisi juga menyebut bahwa Ibrohim masuk dalam jaringan Noordin pada 2000.
Anugrah meminta kedua adiknya itu segera menyerahkan diri kepada polisi. Kata dia, keterlibatan mereka dalam jaringan teroris itu membuat nama keluarga menjadi buruk. Bahkan, jenazah Ibrohim yang merupakan ipar Anugrah itu sampai ditolak warga saat hendak dikuburkan di sana (Kuningan).
radar banten
Banten Internet Online
Blog Informasi seputar Banten dan sekitarnya
Tuesday, August 25, 2009
Dakwah Diawasi Gejala Kemunduran
SERANG - Rencana aparat kepolisian yang akan mengawasi aktivitas dakwah di bulan Ramadhan terus menuai kecaman.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten Prof KH Wahab Afif mengatakan, kebijakan yang diambil pihak kepolisian terhadap semua kegiatan dakwah di bulan Ramadhan merupakan bentuk kemunduran. “Ini adalah pola-pola Orde Baru,” kata Wahab Afif melalui telepon genggam, Senin (24/8).
Ia mengatakan, kegiatan dakwah tidak harus dipantau karena isinya mengimbau agar umat Islam menjauhi perbuatan nahi dan munkar. “Tidak mungkin teroris mengajak atau memengaruhi orang-orang dengan cara terang-terangan,” tegasnya.
Sekretaris MUI Provinsi Banten Syibli Sarjaya berpendapat serupa. Ia mengatakan, tidak seharusnya pengawasan terhadap isi dakwah dilakukan oleh aparat kepolisian. Sebab, hal tersebut dapat menimbulkan keresahan baru di kalangan masyarakat. “Seharusnya masyarakat yang harus dilibatkan dalam pengawasan ini,” katanya.
Begitu juga kata Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Provinsi Banten, Yusuf Rusdi. Dia menilai, pengawasan yang berlebihan oleh kepolisian terhadap aktivitas dakwah seperti membuka luka lama umat muslim. “Kalau benar ini dilakukan maka mengingatkan kita pada masa Orde Baru,” kata Yusuf.
Dikatakan Yusuf, kepolisian semestinya tidak perlu melakukan pengawasan yang berlebihan. Meksi dirinya merasa heran dengan program kepolisian tersebut, tapi Yusuf mengatakan, pengawasan dari polisi tidak akan menyurutkan kegiatan dakwah para da’i. “Biarkan saja, tugas kita untuk menyampaikan dakwah tetap kita lakukan,” katanya.
Dihubungi terpisah, akademisi IAIN SMH Banten yang juga penceramah Wawan Wahyudin mengatakan hal yang sama. Menurutnya, tidak tepat bila isi ceramah dipantau lantaran ketakutan isinya menghasut. “Dakwah yang selama ini kami lakukan adalah dakwah mengajak kebaikan. Tidak pernah kami menyerukan untuk melakukan aksi terorisme,” katanya. Dia menegaskan yang disampaikan adalah yang bersumber dari Alquran dan alhadits.
radar banten
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten Prof KH Wahab Afif mengatakan, kebijakan yang diambil pihak kepolisian terhadap semua kegiatan dakwah di bulan Ramadhan merupakan bentuk kemunduran. “Ini adalah pola-pola Orde Baru,” kata Wahab Afif melalui telepon genggam, Senin (24/8).
Ia mengatakan, kegiatan dakwah tidak harus dipantau karena isinya mengimbau agar umat Islam menjauhi perbuatan nahi dan munkar. “Tidak mungkin teroris mengajak atau memengaruhi orang-orang dengan cara terang-terangan,” tegasnya.
Sekretaris MUI Provinsi Banten Syibli Sarjaya berpendapat serupa. Ia mengatakan, tidak seharusnya pengawasan terhadap isi dakwah dilakukan oleh aparat kepolisian. Sebab, hal tersebut dapat menimbulkan keresahan baru di kalangan masyarakat. “Seharusnya masyarakat yang harus dilibatkan dalam pengawasan ini,” katanya.
Begitu juga kata Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Provinsi Banten, Yusuf Rusdi. Dia menilai, pengawasan yang berlebihan oleh kepolisian terhadap aktivitas dakwah seperti membuka luka lama umat muslim. “Kalau benar ini dilakukan maka mengingatkan kita pada masa Orde Baru,” kata Yusuf.
Dikatakan Yusuf, kepolisian semestinya tidak perlu melakukan pengawasan yang berlebihan. Meksi dirinya merasa heran dengan program kepolisian tersebut, tapi Yusuf mengatakan, pengawasan dari polisi tidak akan menyurutkan kegiatan dakwah para da’i. “Biarkan saja, tugas kita untuk menyampaikan dakwah tetap kita lakukan,” katanya.
Dihubungi terpisah, akademisi IAIN SMH Banten yang juga penceramah Wawan Wahyudin mengatakan hal yang sama. Menurutnya, tidak tepat bila isi ceramah dipantau lantaran ketakutan isinya menghasut. “Dakwah yang selama ini kami lakukan adalah dakwah mengajak kebaikan. Tidak pernah kami menyerukan untuk melakukan aksi terorisme,” katanya. Dia menegaskan yang disampaikan adalah yang bersumber dari Alquran dan alhadits.
radar banten
Pemerintah Dilematis
Pemerintah mengalami dilema terkait wacana perubahan aturan tentang pelaksanaan pemilihan gubernur (pilgub)
Jika pemilihan dilakukan oleh DPRD, maka hal itu akan mengingkari prinsip demokrasi secara langsung dan membuka peluang politik uang. Namun jika tetap dipilih secara langsung oleh rakyat, maka hal itu jelas butuh biaya dan pengerahan tenaga yang tidak sedikit.
Hal itu diungkapkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto kepada wartawan di Depdagri, Senin (24/8). “Prinsip yang harus jadi pedoman pemilihan kepala daerah harus dilakukan secara demokratis. Setelah kita melewati dengan sistem perwakilan (dipilih DPRD), kemudian dengan pemilihan langung. Dua kegiatan ini ternyata ada plus minusnya yang beragam,” ujar Mardiyanto.
Menurutnya, untuk pemilihan gubernur secara langsung problemnya adalah pengerahan tenaga dan dana di satu provinsi. “Harapan saya memang pemilihan gubernur itu tidak mengeluarkan dana yang cukup besar. Itu yang menjadi perhatian utama, karena pelibatan satu provinsi, kalau provinsinya besar cukup rumit juga. Apalagi kalau sampai seperti Jawa Timur (kasus Pilkada Jatim). Soal ini memang banyak masukan tetapi kita akan mengakomodir dulu, cari sistem yang tepat,” ujarnya.
Namun untuk pemilihan gubernur oleh DPRD, Mardiyanto menilainya bukan hal yang demokratis. “Tetapi (pemilihan Gubernur oleh DPRD) dalam sistem perwakilan selain tidak mencerminkan demokrasi, juga bisa terjadi money politics. Bahkan (money politics) lebih mudah,” ulasnya
radar banten
Jika pemilihan dilakukan oleh DPRD, maka hal itu akan mengingkari prinsip demokrasi secara langsung dan membuka peluang politik uang. Namun jika tetap dipilih secara langsung oleh rakyat, maka hal itu jelas butuh biaya dan pengerahan tenaga yang tidak sedikit.
Hal itu diungkapkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto kepada wartawan di Depdagri, Senin (24/8). “Prinsip yang harus jadi pedoman pemilihan kepala daerah harus dilakukan secara demokratis. Setelah kita melewati dengan sistem perwakilan (dipilih DPRD), kemudian dengan pemilihan langung. Dua kegiatan ini ternyata ada plus minusnya yang beragam,” ujar Mardiyanto.
Menurutnya, untuk pemilihan gubernur secara langsung problemnya adalah pengerahan tenaga dan dana di satu provinsi. “Harapan saya memang pemilihan gubernur itu tidak mengeluarkan dana yang cukup besar. Itu yang menjadi perhatian utama, karena pelibatan satu provinsi, kalau provinsinya besar cukup rumit juga. Apalagi kalau sampai seperti Jawa Timur (kasus Pilkada Jatim). Soal ini memang banyak masukan tetapi kita akan mengakomodir dulu, cari sistem yang tepat,” ujarnya.
Namun untuk pemilihan gubernur oleh DPRD, Mardiyanto menilainya bukan hal yang demokratis. “Tetapi (pemilihan Gubernur oleh DPRD) dalam sistem perwakilan selain tidak mencerminkan demokrasi, juga bisa terjadi money politics. Bahkan (money politics) lebih mudah,” ulasnya
radar banten
Monday, August 24, 2009
Polisi Awasi Dakwah Ditentang
JAKARTA - Rencana polisi mengawasi semua pendakwah di bulan Ramadan terus menuai kecaman. Wakil ketua FPPP DPR Lukman Hakiem menilai polisi akan mengulang cara Orde Baru dalam mengatasi masalah.
“Polri memainkan bola panas melawan Islam. Melalui Kadiv Humas, Polri resmi mengumumkan akan mengawasi kegiatan dakwah Islam selama Ramadhan. Ini 100 persen pengulangan cara Orde Baru,” kata Lukman, Minggu (23/8).
Menurut Lukman, polisi telah salah memaknai terorisme dan mencari solusi atas masalah itu. Karena, bukan kerjasama dari masyarakat yang akan diperoleh untuk memerangi terorisme jika polisi memusuhi Islam.
“Polisi jelas-jelas telah mendefinisikan dan menganggap Islam sebagai teroris yang harus diawasi. Ini definisi dan anggapan sangat keliru serta kebijakan sesat dan tidak beralasan. Karena itu harus ditolak,” paparnya.
Politisi PPP ini menegaskan teroris adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Sementara Islam adalah rahmat dan pelopor humanisme sejagad. “Kini dakwah Islam diawasi, tidak mustahil besok polisi akan mengawasi sektor kehidupan yang lain, termasuk kebebasan pers,” pungkas Lukman.
Anggota FPKS DPR Almuzammil Yusuf meminta Presiden SBY segera meluruskan statemen dari institusi Polri itu agar pemerintahannya tidak dinilai mengulang cara Orde Baru dalam mengatasi masalah. “Pak SBY saya kira harus berbicara meluruskan isu yang berkembang ini. Ini akan sangat merugikan citra pemerintahan SBY. Apalagi SBY dan Boediono sebagai capres-cawapres terpilih didukung partai-partai religius nasionalis seperti PKS, PAN, PKB, dan PPP,” pinta Almuzammil Yusuf, Minggu (23/8).
Menurut politisi PKS ini, mengatakan dakwah akan diawasi polisi karena ada segelintir kecil teroris dari aktivis dakwah, sama saja secara tersirat mengatakan dakwah dan masjid itu adalah tempat yang harus dijauhi karena berbahaya bagi keamanan bangsa. “Ini sangat tidak adil dan berlebihan, terlebih di bulan suci Ramadhan umat Islam sedang giat-giatnya ibadah ke masjid,” kata anggota FPKS ini.
Menurutnya, memang ada aktivis Islam yang terseret ke jalur teroris, hal itu sebagaimana juga aktivis agama lainnya yang ada di berbagai penjuru dunia. Namun aktivitas dakwah dan masjid yang terseret ke teroris lebih sedikit jika dibandingkan jumlah aktivis masjid yang baik. “Jelas jumlahnya tak laik dibandingkan. Karena produk utama dakwah dan masjid itu iman taqwa dan akhlak mulia,” paparnya.
Almuzammil mengaku khawatir terhadap dampak peringatan Polri dan komentar miring salah seorang Pangdam terhadap dakwah, jubah dan jenggot akan membuat umat muslim takut dengan dakwah dan masjid. “Jangan-jangan nanti pembinaan Polri dan TNI akan jauh dari masjid seperti masa Orba dulu. Yang dekat dengan dakwah dan masjid bisa kondite buruk, berarti karir mereka akan terancam,” paparnya.
Pengawasan dakwah oleh kepolisian demi mengantisipasi aksi terorisme adalah cara yang tidak tepat dan mubazir. Sebabnya, dakwah bukanlah cara yang bisa memengaruhi seseorang melakukan teror. “Teknik yang dipakai para teroris adalah brainwashing. Bukan dengan ceramah-ceramah umum. Karena itu, mengawasi dakwah adalah pilihan yang cenderung mubazir. Lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya,” kata Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Minggu (23/8).
Daripada mengawasi dakwah, kata Anas, polisi seharusnya melengkapi kerjanya dengan pendekatan sosiokultural. Bekerja sama dengan ormas-ormas Islam, para ulama, dan para dai adalah pilihan yang bijak dan tepat. “Bahkan perlu pendekatan kepada tokoh dan komunitas yang cenderung dimanfaatkan para teroris sebagai semacam ‘habitat’,” ujar mantan Ketua HMI ini.
Dengan pendekatan sosiokultural tersebut, kata Anas, ruang gerak para teroris makin sempit. Sebab, orang-orang atau komunitas yang ‘membiarkan’ bergeser posisi pada barisan ‘antiterorisme’.
Anas juga menjelaskan, memerangi terorisme adalah agenda nasional, bahkan agenda global. “Tidak mungkin tuntas kalau hanya dibebankan kepada Polri. TNI dan masyarakat luas, termasuk ormas-ormas Islam perlu terlibat dengan porsinya masing-masing,” pungkasnya.
source: radar banten
“Polri memainkan bola panas melawan Islam. Melalui Kadiv Humas, Polri resmi mengumumkan akan mengawasi kegiatan dakwah Islam selama Ramadhan. Ini 100 persen pengulangan cara Orde Baru,” kata Lukman, Minggu (23/8).
Menurut Lukman, polisi telah salah memaknai terorisme dan mencari solusi atas masalah itu. Karena, bukan kerjasama dari masyarakat yang akan diperoleh untuk memerangi terorisme jika polisi memusuhi Islam.
“Polisi jelas-jelas telah mendefinisikan dan menganggap Islam sebagai teroris yang harus diawasi. Ini definisi dan anggapan sangat keliru serta kebijakan sesat dan tidak beralasan. Karena itu harus ditolak,” paparnya.
Politisi PPP ini menegaskan teroris adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Sementara Islam adalah rahmat dan pelopor humanisme sejagad. “Kini dakwah Islam diawasi, tidak mustahil besok polisi akan mengawasi sektor kehidupan yang lain, termasuk kebebasan pers,” pungkas Lukman.
Anggota FPKS DPR Almuzammil Yusuf meminta Presiden SBY segera meluruskan statemen dari institusi Polri itu agar pemerintahannya tidak dinilai mengulang cara Orde Baru dalam mengatasi masalah. “Pak SBY saya kira harus berbicara meluruskan isu yang berkembang ini. Ini akan sangat merugikan citra pemerintahan SBY. Apalagi SBY dan Boediono sebagai capres-cawapres terpilih didukung partai-partai religius nasionalis seperti PKS, PAN, PKB, dan PPP,” pinta Almuzammil Yusuf, Minggu (23/8).
Menurut politisi PKS ini, mengatakan dakwah akan diawasi polisi karena ada segelintir kecil teroris dari aktivis dakwah, sama saja secara tersirat mengatakan dakwah dan masjid itu adalah tempat yang harus dijauhi karena berbahaya bagi keamanan bangsa. “Ini sangat tidak adil dan berlebihan, terlebih di bulan suci Ramadhan umat Islam sedang giat-giatnya ibadah ke masjid,” kata anggota FPKS ini.
Menurutnya, memang ada aktivis Islam yang terseret ke jalur teroris, hal itu sebagaimana juga aktivis agama lainnya yang ada di berbagai penjuru dunia. Namun aktivitas dakwah dan masjid yang terseret ke teroris lebih sedikit jika dibandingkan jumlah aktivis masjid yang baik. “Jelas jumlahnya tak laik dibandingkan. Karena produk utama dakwah dan masjid itu iman taqwa dan akhlak mulia,” paparnya.
Almuzammil mengaku khawatir terhadap dampak peringatan Polri dan komentar miring salah seorang Pangdam terhadap dakwah, jubah dan jenggot akan membuat umat muslim takut dengan dakwah dan masjid. “Jangan-jangan nanti pembinaan Polri dan TNI akan jauh dari masjid seperti masa Orba dulu. Yang dekat dengan dakwah dan masjid bisa kondite buruk, berarti karir mereka akan terancam,” paparnya.
Pengawasan dakwah oleh kepolisian demi mengantisipasi aksi terorisme adalah cara yang tidak tepat dan mubazir. Sebabnya, dakwah bukanlah cara yang bisa memengaruhi seseorang melakukan teror. “Teknik yang dipakai para teroris adalah brainwashing. Bukan dengan ceramah-ceramah umum. Karena itu, mengawasi dakwah adalah pilihan yang cenderung mubazir. Lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya,” kata Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Minggu (23/8).
Daripada mengawasi dakwah, kata Anas, polisi seharusnya melengkapi kerjanya dengan pendekatan sosiokultural. Bekerja sama dengan ormas-ormas Islam, para ulama, dan para dai adalah pilihan yang bijak dan tepat. “Bahkan perlu pendekatan kepada tokoh dan komunitas yang cenderung dimanfaatkan para teroris sebagai semacam ‘habitat’,” ujar mantan Ketua HMI ini.
Dengan pendekatan sosiokultural tersebut, kata Anas, ruang gerak para teroris makin sempit. Sebab, orang-orang atau komunitas yang ‘membiarkan’ bergeser posisi pada barisan ‘antiterorisme’.
Anas juga menjelaskan, memerangi terorisme adalah agenda nasional, bahkan agenda global. “Tidak mungkin tuntas kalau hanya dibebankan kepada Polri. TNI dan masyarakat luas, termasuk ormas-ormas Islam perlu terlibat dengan porsinya masing-masing,” pungkasnya.
source: radar banten
Tempatkan Informan Dakwah

PAKUHAJI-Memasuki bulan Ramadhan, polisi makin gencar mewaspadai masuknya jaringan teroris.
Tidak menutup kemungkinan, jaringan teroris berkeliaran merekrut anggota dengan berkedok dakwah di bulan Ramadhan
Atas dasar itu, sejumlah personel polisi di wilayah utara Kabupaten Tangerang disiagakan memantau kegiatan-kegiatan dakwah.
Wakil Kapolsek Pakuhaji Iptu Wiyadi mengatakan, pihaknya turut melaksanakan pemantauan setiap kegiatan dakwah di bulan Ramadhan dengan menyebar informan. Pemantauan juga dilakukan dengan cara menempatkan anggotanya di setiap masjid dan tempat-tempat kegiatan agama. “Tindakan ini dilakukan bukan untuk membatasi kegiatan dakwah, melainkan mencegah dakwah disusupi para teroris,” kata Wiyadi, akhir pekan kemarin.
Menurut Wiyadi, langkah pemantauan ini sesuai dengan yang disampaikan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna di Jakarta beberapa hari lalu. Upaya antisipasi ini menyusul masih adanya sejumlah anggota teroris yang memiliki kemampuan merekrut anggota. Apalagi gembong teroris Noordin M Top masih belum tertangkap.
Wiyadi juga mengimbau agar para ormas Islam tidak main hakim sendiri. Jika menemukan orang atau pihak yang dianggap mengganggu atau dicurigai masuk jaringan teroris, agar segera lapor ke petugas.
Upaya pemantauan kegiatan di bulan Ramadhan ini juga dilakukan Polsek Teluknaga, Polsek Sepatan, dan Polsek Mauk. Mereka juga menempatkan anggotanya di setiap kegiatan dakwah Ramadhan.
Untuk diketahui, wilayah Kabupaten Tangerang belakangan diketahui pernah menjadi tempat menetap salah satu buronan polisi terkait kasus bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu. Ia adalah Mohammad Syahrir, kakak kandung Saefudin Jaelani yang disebut-sebut sebagai perekrut pelaku bom bunuh diri di hotel berbintang lima tersebut.
Informasi yang dihimpun, Syahrir tercatat pernah tinggal di Desa Kampung Melayu Timur, Kecamatan Teluknaga. Dia menetap di rumah kontrakan di perumahan Mutiara Garuda Blok C1 No 6 bersama keluarganya sejak tahun 1996. Namun, mantan pegawai GMF Garuda Indonesia ini sudah tidak lagi menghuni rumah tersebut sejak tahun 2005.
Belakangan kabar beredar, Syahrir dan Saefudin Jaelani disebut-sebut masih sedarah dengan mantan anggota DPRD Kabupaten Tangerang Anugerah. Kedua buronan polisi ini adalah adik kandung Anugerah, anggota dewan dari PKS.
source: radar banten
Masjid dengan 4 Perkara, Dibangun untuk Islamkan Banten
Masjid Kasunyatan, Masjid Tertua di Banten
Masjid Kasunyatan, yang berada di Kampung Kasunyatan RT 009/03, Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang ini konon merupakan masjid pertama yang didirikan di Banten, yakni pada tahun 1533. Masjid yang berdiri di atas lahan sekitar 1 hektar itu dulunya dikenal sebagai tempat yang angker.
Rostina – Serang
Tak seperti masjid-masjid terkenal lainnya yang mempunyai plang nama di jalan masuk utama masjid, Masjid Kasunyatan, yang tersohor ini justru “menyempil”. Tidak ada plang nama di depan gang kecil menuju masjid itu. Jalan menuju masjid pun kondisinya rusak dan sempit. Lebarnya kira-kira hanya dapat dilewati satu mobil kecil.
Masjid yang didirikan Raja Pertama Banten Sultan Maulana Hasanuddin ini dari luar terlihat biasa. Hanya saja, tak seperti mayoritas masjid lainnya, Masjid Kasunyatan terbagi dalam 3 bangunan, yakni dua pendopo dan satu bangunan utama, yang berada di tengah-tengah pendopo.
Menakjubkan, itulah kesan pertama Radar Banten saat memasuki masjid sederhana itu. Bagaimana tidak, dalam ruangan masjid utama yang tak terlalu besar itu, masih berdiri dengan kokoh “singgasana” raja milik Sultan Maulana Yusuf. Tak hanya “singgasana” yang terbuat dari kayu jati yang dilapisi cat berwarna putih dan emas, di atas “singgasana” itu juga masih bertengger Pedang Cis, pedang milik Sultan Maulana Yusuf yang berbelah dua pada bagian bawahnya. Kini, tempat tersebut dijadikan tempat khutbah ketika salat Jumat digelar, dan pedang itu dijadikan pegangan khotib.
Ditemani pemuda yang biasa menjaga Masjid Kasunyatan, Rosadi, Radar Banten menemui tokoh masyarakat setempat yang juga bendahara Masjid Kasunyatan Tb Ardabili di kediamannya yang berada tak jauh dari masjid. Saat ditanya mengenai sejarah Masjid Kasunyatan, Ardabili langsung menceritakan apa yang ia ketahui. “Masjid ini didirikan Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 1533 masehi,” ujar Ardabili.
Ia mengatakan, sultan mendirikan masjid tersebut setelah tiba dari Cirebon, Jawa Barat untuk mengislamkan orang Banten kala itu.
Ardabili mengatakan, masjid tersebut juga dikenal sebagai Masjid Al-Fatihah. Selain berarti masjid pembukaan, masjid ini mempunyai luas 144 meter, sesuai dengan jumlah huruf yang ada dalam surat tersebut. “Masjid ini mempunyai 4 perkara, semuanya serba 4,” terangnya.
Ia menguraikan, masjid tersebut mempunyai 4 pintu gerbang, 4 pintu masjid, 4 tiang besar, menara yang berbentuk persegi 4, kolam yang berbentuk bintang 4, serta kubah yang berbentuk 4 burung.
Menurut riwayat, ulas Ardabili, saat mendirikan Masjid Kasunyatan, Sultan Maulana Hasanuddin mempunyai 4 perkara juga yang harus disebarkan, yakni keislaman, keimanan, keikhsanan, serta keikhlasan. Kasunyatan sendiri, kata dia, mempunyai 4 makna, yaitu kesucian, kenyataan, kesunyian serta kesepian.
Di sekitar masjid, ada juga makam yang terbagi dalam dua bagian, bagian utara dan selatan. Di bagian utara, terdapat makam Syekh Abdul Syukur Sepuh, Syekh Ahmad Almadani, Tb Urip, Syekh Habul, Pangeran Arya Kasunyatan, Tb Sulaiman, Syekh Hasan Khan, Buyut Cempa, Patih Jaya Kusuma, dan Tb Zulkarnain. Sementara di bagian selatan terdapat makam Nyi Ratu Asiyah, Nyi Karimah, Nyi Ratu Ayu Sari Banon, Tb Muhidin, Ki Rajil, Ki Ijel, dan Ki Bujel. Keseluruhan makam dinamakan Komplek Penembangan Sulaiman.
Ardabili mengatakan, dahulu, Masjid Kasunyatan dikenal sebagai tempat yang angker. Bagaimana tidak, kalau orang tidur di masjid pada malam hari, dapat berpindah menjadi ke tengah hutan saat pagi harinya. “Dulu ada beberapa yang mengalami seperti itu. Tidur di masjid, bangun-bangun sudah di makam, atau di hutan,” ceritanya. Selain itu, dulu, kata dia, masjid ini dikenal angker, lantaran banyak burung hantu dan pohon-pohon besar di sekitar masjid, sehingga jarang ada masyarakat yang berani mendekati masjid. Namun, kini keadaan masjid tak seperti dulu lagi.
Selain makam, di sekitar masjid juga terdapat kolam pemandian yang mempunyai kedalaman sekitar 4 meter. Konon, kolam tersebut digunakan sebagai pemandian bagi para mualaf. Kini, menurut Ardabili, kolam pemandian itu kerap dijadikan tempat ritual setiap Kamis malam. Biasanya, orang yang datang untuk mandi menyiapkan bunga-bunga. “Biasanya tempat pemandian ini ramai pada malam Jumat, di atas jam 12 malam. “Sehabis itu, biasanya mereka berziarah,” tambah Rosadi. Di masjid ini juga terdapat tempat untuk menyepi di menara masjid.
Air kolam itu, menurut Rosadi, tak seasin air tanah yang ada di sekitar masjid. Kemarin sore, Radar Banten berwudhu dengan air ledeng, dan seperti pernyataan Rosadi, air tanahnya berasa asin. Kata dia, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah pernah memberikan bantuan untuk membuatkan pompa air, namun air yang dihasilkan ternyata sama saja, berasa asin.
Tak banyak peninggalan yang masih tersimpan di Masjid Kasunyatan, menurut Ardabili, yang tersisa hanya Pedang Cis milik Sultan Maulana Yusuf, gentong Aceh, dan rongsokan ranjang milik Nyi Ratu Asiyah. “Dulu ada bedug, tapi bedugnya ditukar dengan bedug milik Masjid Agung Banten. Jadi bedug yang ada di sana itu sebenarnya milik masjid ini,” tuturnya.
Masjid ini juga mengalami sejumlah renovasi, mulai dari lantainya hingga dinding yang ditinggikan pada kedua pendopo. Radar Banten melihat ada prasasti yang ditandatangani Bupati Serang RTA Soeria Nata Atmadja, pada Desember 1932 yang terletak pada pendopo bagian kanan masjid.
Di bulan Ramadhan ini, Ardabili mengatakan, selain menggelar salat tarawih bersama, tradisi yang masih dilestarikan yakni taqobalan, yakni puji-pujian kepada Allah SWT.
source: radar banten
Masjid Kasunyatan, yang berada di Kampung Kasunyatan RT 009/03, Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang ini konon merupakan masjid pertama yang didirikan di Banten, yakni pada tahun 1533. Masjid yang berdiri di atas lahan sekitar 1 hektar itu dulunya dikenal sebagai tempat yang angker.
Rostina – Serang
Tak seperti masjid-masjid terkenal lainnya yang mempunyai plang nama di jalan masuk utama masjid, Masjid Kasunyatan, yang tersohor ini justru “menyempil”. Tidak ada plang nama di depan gang kecil menuju masjid itu. Jalan menuju masjid pun kondisinya rusak dan sempit. Lebarnya kira-kira hanya dapat dilewati satu mobil kecil.
Masjid yang didirikan Raja Pertama Banten Sultan Maulana Hasanuddin ini dari luar terlihat biasa. Hanya saja, tak seperti mayoritas masjid lainnya, Masjid Kasunyatan terbagi dalam 3 bangunan, yakni dua pendopo dan satu bangunan utama, yang berada di tengah-tengah pendopo.
Menakjubkan, itulah kesan pertama Radar Banten saat memasuki masjid sederhana itu. Bagaimana tidak, dalam ruangan masjid utama yang tak terlalu besar itu, masih berdiri dengan kokoh “singgasana” raja milik Sultan Maulana Yusuf. Tak hanya “singgasana” yang terbuat dari kayu jati yang dilapisi cat berwarna putih dan emas, di atas “singgasana” itu juga masih bertengger Pedang Cis, pedang milik Sultan Maulana Yusuf yang berbelah dua pada bagian bawahnya. Kini, tempat tersebut dijadikan tempat khutbah ketika salat Jumat digelar, dan pedang itu dijadikan pegangan khotib.
Ditemani pemuda yang biasa menjaga Masjid Kasunyatan, Rosadi, Radar Banten menemui tokoh masyarakat setempat yang juga bendahara Masjid Kasunyatan Tb Ardabili di kediamannya yang berada tak jauh dari masjid. Saat ditanya mengenai sejarah Masjid Kasunyatan, Ardabili langsung menceritakan apa yang ia ketahui. “Masjid ini didirikan Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 1533 masehi,” ujar Ardabili.
Ia mengatakan, sultan mendirikan masjid tersebut setelah tiba dari Cirebon, Jawa Barat untuk mengislamkan orang Banten kala itu.
Ardabili mengatakan, masjid tersebut juga dikenal sebagai Masjid Al-Fatihah. Selain berarti masjid pembukaan, masjid ini mempunyai luas 144 meter, sesuai dengan jumlah huruf yang ada dalam surat tersebut. “Masjid ini mempunyai 4 perkara, semuanya serba 4,” terangnya.
Ia menguraikan, masjid tersebut mempunyai 4 pintu gerbang, 4 pintu masjid, 4 tiang besar, menara yang berbentuk persegi 4, kolam yang berbentuk bintang 4, serta kubah yang berbentuk 4 burung.
Menurut riwayat, ulas Ardabili, saat mendirikan Masjid Kasunyatan, Sultan Maulana Hasanuddin mempunyai 4 perkara juga yang harus disebarkan, yakni keislaman, keimanan, keikhsanan, serta keikhlasan. Kasunyatan sendiri, kata dia, mempunyai 4 makna, yaitu kesucian, kenyataan, kesunyian serta kesepian.
Di sekitar masjid, ada juga makam yang terbagi dalam dua bagian, bagian utara dan selatan. Di bagian utara, terdapat makam Syekh Abdul Syukur Sepuh, Syekh Ahmad Almadani, Tb Urip, Syekh Habul, Pangeran Arya Kasunyatan, Tb Sulaiman, Syekh Hasan Khan, Buyut Cempa, Patih Jaya Kusuma, dan Tb Zulkarnain. Sementara di bagian selatan terdapat makam Nyi Ratu Asiyah, Nyi Karimah, Nyi Ratu Ayu Sari Banon, Tb Muhidin, Ki Rajil, Ki Ijel, dan Ki Bujel. Keseluruhan makam dinamakan Komplek Penembangan Sulaiman.
Ardabili mengatakan, dahulu, Masjid Kasunyatan dikenal sebagai tempat yang angker. Bagaimana tidak, kalau orang tidur di masjid pada malam hari, dapat berpindah menjadi ke tengah hutan saat pagi harinya. “Dulu ada beberapa yang mengalami seperti itu. Tidur di masjid, bangun-bangun sudah di makam, atau di hutan,” ceritanya. Selain itu, dulu, kata dia, masjid ini dikenal angker, lantaran banyak burung hantu dan pohon-pohon besar di sekitar masjid, sehingga jarang ada masyarakat yang berani mendekati masjid. Namun, kini keadaan masjid tak seperti dulu lagi.
Selain makam, di sekitar masjid juga terdapat kolam pemandian yang mempunyai kedalaman sekitar 4 meter. Konon, kolam tersebut digunakan sebagai pemandian bagi para mualaf. Kini, menurut Ardabili, kolam pemandian itu kerap dijadikan tempat ritual setiap Kamis malam. Biasanya, orang yang datang untuk mandi menyiapkan bunga-bunga. “Biasanya tempat pemandian ini ramai pada malam Jumat, di atas jam 12 malam. “Sehabis itu, biasanya mereka berziarah,” tambah Rosadi. Di masjid ini juga terdapat tempat untuk menyepi di menara masjid.
Air kolam itu, menurut Rosadi, tak seasin air tanah yang ada di sekitar masjid. Kemarin sore, Radar Banten berwudhu dengan air ledeng, dan seperti pernyataan Rosadi, air tanahnya berasa asin. Kata dia, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah pernah memberikan bantuan untuk membuatkan pompa air, namun air yang dihasilkan ternyata sama saja, berasa asin.
Tak banyak peninggalan yang masih tersimpan di Masjid Kasunyatan, menurut Ardabili, yang tersisa hanya Pedang Cis milik Sultan Maulana Yusuf, gentong Aceh, dan rongsokan ranjang milik Nyi Ratu Asiyah. “Dulu ada bedug, tapi bedugnya ditukar dengan bedug milik Masjid Agung Banten. Jadi bedug yang ada di sana itu sebenarnya milik masjid ini,” tuturnya.
Masjid ini juga mengalami sejumlah renovasi, mulai dari lantainya hingga dinding yang ditinggikan pada kedua pendopo. Radar Banten melihat ada prasasti yang ditandatangani Bupati Serang RTA Soeria Nata Atmadja, pada Desember 1932 yang terletak pada pendopo bagian kanan masjid.
Di bulan Ramadhan ini, Ardabili mengatakan, selain menggelar salat tarawih bersama, tradisi yang masih dilestarikan yakni taqobalan, yakni puji-pujian kepada Allah SWT.
source: radar banten
KPK Deadline Sebulan

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membentuk tim menelusuri gratifikasi sebesar Rp100 juta yang diterima oleh anggota DPR-RI dari Fraksi PKB. Uang itu sudah diserahkan kepada tim penyidik KPK.
“Kami memberi apresiasi kepada anggota DPR yang sudah mengembalikan uang gratifikasi tersebut. Sekarang KPK sudah membentuk tim menelusuri asal-muasal uang itu,” kata Wakil Ketua KPK bidang Pencegahan, Haryono Umar kepada koran ini di Jakarta, kemarin (23/8).
Namun KPK belum bisa memberi penjelasan lebih detil siapa yang memberikan uang ratusan juta, yang disinyalir masih ada anggota DPR lainnya yang ikut kecipratan. “Tim lagi kumpulkan keterangan. Kami belum tahu uang seperti itu diterima siapa saja, tapi kami imbau jika masih ada anggota DPR yang menerima, sebaiknya diserahkan segera kepada KPK, sebelum 30 hari kerja,” kata dia.
Bila lewat 30 hari kerja, katanya, berarti uang yang diterima tersebut terkategori korupsi, jenisnya menerima gratifikasi. “Anggota DPR itu janji datang lagi ke KPK hari Senin besok (hari ini, red). Dia akan ambil SK tentang pengembalian uang Rp100 juta terkait gratifikasi itu. Nanti kalau informasinya sudah terang, silakan wartawan nanti tanya yang bersangkutan, selain KPK juga akan beri keterangan.”
Haryono tidak hanya memberi imbauan soal gratifikasi, pria asal Prabumulih itu juga mengingatkan agar para pejabat yang akan berakhir masa tugasnya tidak lalai melaporkan harta kekayaan kepada Direktorat LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara). “Paling lama tiga bulan setelah menjabat, pejabat harus sudah laporkan LHKPN,” ujarnya.
source: radar banten
Subscribe to:
Posts (Atom)