Militansi Saefudin Dibentuk Setelah dari Yaman
JAKARTA - Terorisme membuat keluarga Anugrah, mantan anggota DPRD Kabupaten Tangerang dari PKS, kelimpungan.
Tiga anggota keluarganya disebut-sebut terlibat jaringan terorisme. Dua masuk daftar pencarian orang (DPO) polisi, yakni Saefudin Jaelani dan M Syahrir. Satu tewas terkena tembak Densus 88 di Temanggung yakni Ibrohim.
Anugrah mengatakan, militansi dua adiknya yaitu Saefudin Jaelani alias Syaifudin Zuhri dalam jaringan Noordin M Top terbentuk sembilan tahun lalu setelah pulang dari Yaman. Jika ada keluarga yang tidak setuju dengan pendiriannya, Saefudin langsung memboikot hubungan komunikasi.
“Dia pulang tahun 2000 dari Yaman. Sejak itu, dia menjauhkan diri dan seakan memusuhi saya,” ujar Anugrah, kakak Saefudin di kantor DPP PKS Jakarta, Senin (24/8). Saat bicara tentang adiknya, raut muka Anugrah tampak tertekan, kulit di bawah kelopak matanya agak menghitam tanda kurang tidur.
Anugrah adalah kader PKS sejak partai itu bernama Partai Keadilan (PK) pada 1998 silam. Pada pemilu 1999 dan 2004, Anugrah terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Tangerang. Namun, sejak 7 Agustus lalu, dia tak lagi menjadi wakil rakyat karena sudah habis masa jabatannya. Dia sempat mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Banten tapi tidak terpilih. Anugrah tinggal di Jalan Cendana II Blok D7, Perum Sarana Indah Kedaung, Pamulang, Tangerang Selatan.
Anugrah adalah kakak kandung dari dua buron ledakan JW Marriott dan Ritz Carlton. Mereka sebenarnya delapan bersaudara. Anugrah anak kedua. Sementara, M Syahrir alias Aing anak ketiga, Sucihani (istri Ibrahim) anak kelima, dan Saefudin Zuhri anak keenam. Mereka awalnya tinggal di Depok.
Anugrah menuturkan, hubungan delapan bersaudara itu sejak kecil sebenarnya baik-baik saja. Bahkan, saat lelaki 43 tahun itu aktif di Partai Keadilan (sebelum berubah menjadi PKS) pada 1998, dia mengajak Syahrir untuk ikut membantu. Saat itu, Partai Keadilan memang sedang all out untuk menjadi kontestan pemilu. Mereka harus menyiapkan orang sebanyak-banyaknya untuk menghadapi verifikasi faktual agar bisa ikut pemilu.
“Syahrir aktif di DPC Teluk Naga, Tangerang,” kata Kabid Humas DPP PKS Ahmad Mabruri yang ikut mendampingi Anugrah.
Namun, hubungan persaudaraan itu merenggang ketika pada 2000 Saefudin pulang ke Indonesia dari Yaman. Anugrah tak tahu pasti apa yang dilakukan adiknya di Yaman. Namun, dia menduga adiknya bersentuhan dengan kelompok-kelompok tertentu di negeri yang beribukota di Sanaa itu.
Lelaki yang disebut polisi sebagai perekrut “pengantin” Danni Dwi Permana itu seakan hendak menjauhkan keluarganya dari saudara-saudaranya sendiri. Terutama dari Anugrah.
Apalagi, ketika Jaelani Irsyad (orangtua delapan bersaudara itu) memboyong keluarga pindah ke Cilimus, Kuningan, Jawa Barat. Belakangan, Sucihani pun mendirikan rumah tepat di samping rumah Jaelani.
Nah, sejak saat itu, tutur Anugrah, mereka tak lagi berkomunikasi intensif. Bahkan, mereka seperti putus kontak. Kabar mengenai kondisi keluarga tak pernah disampaikan. “Ketika istri Syaifuddin melahirkan di rumah sakit pun, dia tidak memberitahu saya. Saya justru mendengarnya dari orangtua. Bahkan di mana rumah mereka pun, mereka tidak pernah memberitahu keluarga,” tutur Anugrah.
Hal serupa terjadi pada Syahrir. Lelaki yang kini berusia 41 tahun itu pun ikut-ikutan menjauh. Pada 2000 juga, dia memutuskan untuk tidak lagi aktif lagi di PKS. Padahal, dia sebelumnya sangat aktif di partai berideologi Islam itu. ”Kami tidak pernah kontak lagi dan mereka seperti menganggap saya bukan kakak mereka lagi,” katanya dengan nada terbata-bata. Anugrah sempat menghela nafas sejenak usai bicara.
Sejak saat itu, menurut Anugrah, mereka tak pernah bertemu. Mereka baru bisa bertemu enam tahun kemudian yakni pada 2006. Saat itu, keluarga mengadakan halal bihalal pasca Lebaran.
Ketika itulah Anugrah berjumpa dengan Syahrir dan Saefudin. Tapi, pertemuan itu hanya sebentar. “Saya ada urusan karena itu tak bisa berbincang banyak dengan mereka,” tuturnya.
Setelah itu, praktis Anugrah tak pernah bertemu dengan mereka berdua. Anugrah sendiri juga tidak pernah mencurigai bahwa mereka masuk dalam jaringan buron terorisme kelas wahid Noordin M Top.
“Dugaan saya, Saefudin-lah yang mengajak Syahrir dan Ibrohim untuk ikut dalam jaringan teroris itu,” kata Anugrah. Apalagi, polisi juga menyebut bahwa Ibrohim masuk dalam jaringan Noordin pada 2000.
Anugrah meminta kedua adiknya itu segera menyerahkan diri kepada polisi. Kata dia, keterlibatan mereka dalam jaringan teroris itu membuat nama keluarga menjadi buruk. Bahkan, jenazah Ibrohim yang merupakan ipar Anugrah itu sampai ditolak warga saat hendak dikuburkan di sana (Kuningan).
radar banten