Saturday, August 22, 2009

Marhaban Ya Ramadhan

Selamat datang wahai bulan Ramadhan, bulan yang kami rindukan dengan penuh ketulusan, karena engkau telah datang kembali tanpa kami maki.

Oleh Prof Dr H Fauzul Iman, MA

Tetapi sesediakala kami sambut dengan sejumlah amaliah sejati, amal yang sudi memecah sikap tak peduli, menata hidup penuh makna tanpa merana dan merugi.
Penyikapan terhadap kehadiran ramadhan adalah semata memenuhi kehendak Allah yang Maha Pemurah dan Ramah. Ramadhan didatangkan oleh Allah setiap tahun (sekali dalam satu bulan) mengandung kehendak kewajiban dan kearifan-Nya untuk dilaksanakan oleh setiap makhluk manusia dengan penuh kehidmatan dan keoptimisan.
Sikap ini, tidak lain merupakan refleksi hati nurani mendalam untuk memahami dan mengamalkan kehendak Tuhan, yang bermaksud positif merapikan kehidupan umat manusia yang selalu terjebak pada rutinitas hidup yang pongah dan pengap.
Manusia terkadang seenaknya dengan sejagat nafsu menumpahkan keinginan totalnya guna memenuhi kebutuhan hidup tanpa menyadari adanya kehendak Tuhan yang Maha Mutlak dan Nisbi. Akibatnya di luar dugaan manusia telah mengalami kerugian yang amat fatal karena harus merenggut malapetaka yang amat mencekam kehidupannya. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah; “Telah terjadi kerusakan di darat dan di laut akibat ulah perbuatan manusia”( QS: Arrum: 41).
Oleh karena itu kehadiran Ramadhan ini marilah kita sambut dengan amaliyah yang bernuansa khidmat atas kehendak Tuhan, Allah SWT. Karena ibadah puasa bukan milik kita sebagai manusia tetapi milik Tuhan. Apa yang kita perbuat dari ibadah puasa hanyalah memenuhi kewajiban dan kehendak Tuhan agar kita terhindar dari suasana hidup yang dilumuri gelora kelezatan nafsu dan fragmatisme hidup yang berselera ria dan arogan.
Namun, dengan memenuhi kehendak Tuhan, kehidupan manusia akan terkendalikan untuk memenuhi tata aturan Allah yang menghendaki emosi hidup penuh terkontrol dan terdesain dalam keselamatan dan keseimbangan.
Dalam konteks ini maka sebenarnya kita tidak menyambut ibadah puasa untuk diri sendiri, karena hal ini akan melahirkan ego manusiawi dan sikap tiranisme yang menyebabkan meletakkan kehendak Allah dibawah kehendak kita sendiri. Puasa yang demikian berdampak pada kerapuhan dan keserakahan pribadi yang kerap mengecilkan peran dan martabat kemanusiaan serta menumbuhkan sikap menang sendiri.
Alhasil, puasa yang kita amalkan sesungguhnya bukan untuk kita melainkan untuk Allah, dan Allahlah yang akan membalas amaliyah puasa kita. Bukan kita sendiri yang membalasnya, kita tidak punya otoritas mengklaim kebaikan puasa kita sebagaimana tidak bisa menilai kekurangan ibadah puasa orang lain.
Konsekwensi lanjut dari pernyataan ini adalah ketiadaan treatment diri yang mengklaim paling suci seperti Tuhan, sebagaimana pula kita tidak boleh menilai orang lain paling buruk, karena yang benar dan paling suci hanyalah Tuhan. Inilah yang dimaksud sabda Nabi SAW, “Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya”. Selamat berpuasa.


Prof Dr H Fauzul Iman, MA
Penulis adalah Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN SMH Banten

Pencarian