Masjid Kasunyatan, Masjid Tertua di Banten
Masjid Kasunyatan, yang berada di Kampung Kasunyatan RT 009/03, Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang ini konon merupakan masjid pertama yang didirikan di Banten, yakni pada tahun 1533. Masjid yang berdiri di atas lahan sekitar 1 hektar itu dulunya dikenal sebagai tempat yang angker.
Rostina – Serang
Tak seperti masjid-masjid terkenal lainnya yang mempunyai plang nama di jalan masuk utama masjid, Masjid Kasunyatan, yang tersohor ini justru “menyempil”. Tidak ada plang nama di depan gang kecil menuju masjid itu. Jalan menuju masjid pun kondisinya rusak dan sempit. Lebarnya kira-kira hanya dapat dilewati satu mobil kecil.
Masjid yang didirikan Raja Pertama Banten Sultan Maulana Hasanuddin ini dari luar terlihat biasa. Hanya saja, tak seperti mayoritas masjid lainnya, Masjid Kasunyatan terbagi dalam 3 bangunan, yakni dua pendopo dan satu bangunan utama, yang berada di tengah-tengah pendopo.
Menakjubkan, itulah kesan pertama Radar Banten saat memasuki masjid sederhana itu. Bagaimana tidak, dalam ruangan masjid utama yang tak terlalu besar itu, masih berdiri dengan kokoh “singgasana” raja milik Sultan Maulana Yusuf. Tak hanya “singgasana” yang terbuat dari kayu jati yang dilapisi cat berwarna putih dan emas, di atas “singgasana” itu juga masih bertengger Pedang Cis, pedang milik Sultan Maulana Yusuf yang berbelah dua pada bagian bawahnya. Kini, tempat tersebut dijadikan tempat khutbah ketika salat Jumat digelar, dan pedang itu dijadikan pegangan khotib.
Ditemani pemuda yang biasa menjaga Masjid Kasunyatan, Rosadi, Radar Banten menemui tokoh masyarakat setempat yang juga bendahara Masjid Kasunyatan Tb Ardabili di kediamannya yang berada tak jauh dari masjid. Saat ditanya mengenai sejarah Masjid Kasunyatan, Ardabili langsung menceritakan apa yang ia ketahui. “Masjid ini didirikan Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 1533 masehi,” ujar Ardabili.
Ia mengatakan, sultan mendirikan masjid tersebut setelah tiba dari Cirebon, Jawa Barat untuk mengislamkan orang Banten kala itu.
Ardabili mengatakan, masjid tersebut juga dikenal sebagai Masjid Al-Fatihah. Selain berarti masjid pembukaan, masjid ini mempunyai luas 144 meter, sesuai dengan jumlah huruf yang ada dalam surat tersebut. “Masjid ini mempunyai 4 perkara, semuanya serba 4,” terangnya.
Ia menguraikan, masjid tersebut mempunyai 4 pintu gerbang, 4 pintu masjid, 4 tiang besar, menara yang berbentuk persegi 4, kolam yang berbentuk bintang 4, serta kubah yang berbentuk 4 burung.
Menurut riwayat, ulas Ardabili, saat mendirikan Masjid Kasunyatan, Sultan Maulana Hasanuddin mempunyai 4 perkara juga yang harus disebarkan, yakni keislaman, keimanan, keikhsanan, serta keikhlasan. Kasunyatan sendiri, kata dia, mempunyai 4 makna, yaitu kesucian, kenyataan, kesunyian serta kesepian.
Di sekitar masjid, ada juga makam yang terbagi dalam dua bagian, bagian utara dan selatan. Di bagian utara, terdapat makam Syekh Abdul Syukur Sepuh, Syekh Ahmad Almadani, Tb Urip, Syekh Habul, Pangeran Arya Kasunyatan, Tb Sulaiman, Syekh Hasan Khan, Buyut Cempa, Patih Jaya Kusuma, dan Tb Zulkarnain. Sementara di bagian selatan terdapat makam Nyi Ratu Asiyah, Nyi Karimah, Nyi Ratu Ayu Sari Banon, Tb Muhidin, Ki Rajil, Ki Ijel, dan Ki Bujel. Keseluruhan makam dinamakan Komplek Penembangan Sulaiman.
Ardabili mengatakan, dahulu, Masjid Kasunyatan dikenal sebagai tempat yang angker. Bagaimana tidak, kalau orang tidur di masjid pada malam hari, dapat berpindah menjadi ke tengah hutan saat pagi harinya. “Dulu ada beberapa yang mengalami seperti itu. Tidur di masjid, bangun-bangun sudah di makam, atau di hutan,” ceritanya. Selain itu, dulu, kata dia, masjid ini dikenal angker, lantaran banyak burung hantu dan pohon-pohon besar di sekitar masjid, sehingga jarang ada masyarakat yang berani mendekati masjid. Namun, kini keadaan masjid tak seperti dulu lagi.
Selain makam, di sekitar masjid juga terdapat kolam pemandian yang mempunyai kedalaman sekitar 4 meter. Konon, kolam tersebut digunakan sebagai pemandian bagi para mualaf. Kini, menurut Ardabili, kolam pemandian itu kerap dijadikan tempat ritual setiap Kamis malam. Biasanya, orang yang datang untuk mandi menyiapkan bunga-bunga. “Biasanya tempat pemandian ini ramai pada malam Jumat, di atas jam 12 malam. “Sehabis itu, biasanya mereka berziarah,” tambah Rosadi. Di masjid ini juga terdapat tempat untuk menyepi di menara masjid.
Air kolam itu, menurut Rosadi, tak seasin air tanah yang ada di sekitar masjid. Kemarin sore, Radar Banten berwudhu dengan air ledeng, dan seperti pernyataan Rosadi, air tanahnya berasa asin. Kata dia, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah pernah memberikan bantuan untuk membuatkan pompa air, namun air yang dihasilkan ternyata sama saja, berasa asin.
Tak banyak peninggalan yang masih tersimpan di Masjid Kasunyatan, menurut Ardabili, yang tersisa hanya Pedang Cis milik Sultan Maulana Yusuf, gentong Aceh, dan rongsokan ranjang milik Nyi Ratu Asiyah. “Dulu ada bedug, tapi bedugnya ditukar dengan bedug milik Masjid Agung Banten. Jadi bedug yang ada di sana itu sebenarnya milik masjid ini,” tuturnya.
Masjid ini juga mengalami sejumlah renovasi, mulai dari lantainya hingga dinding yang ditinggikan pada kedua pendopo. Radar Banten melihat ada prasasti yang ditandatangani Bupati Serang RTA Soeria Nata Atmadja, pada Desember 1932 yang terletak pada pendopo bagian kanan masjid.
Di bulan Ramadhan ini, Ardabili mengatakan, selain menggelar salat tarawih bersama, tradisi yang masih dilestarikan yakni taqobalan, yakni puji-pujian kepada Allah SWT.
source: radar banten